
Pernah nggak sih kamu ditanya, “kemampuan bahasa Inggris kamu level berapa?” dan kamu bingung mau jawab apa?
Atau mungkin kamu lagi prepare daftar beasiswa, melamar kerja di perusahaan internasional, atau pengen masuk kelas bahasa di level yang tepat, tapi nggak tahu harus mulai dari mana? Nah, di situlah language assessment masuk.
Secara simpel, language assessment adalah cara untuk mengukur kemampuan berbahasa seseorang. Kemampuan bahasa itu sifatnya abstrak, nggak bisa dilihat langsung seperti tinggi badan atau berat badan.
Makanya dibutuhkan sebuah alat ukur yang bisa memberikan gambaran yang lebih objektif tentang sejauh mana seseorang bisa memahami, berbicara, membaca, atau menulis dalam suatu bahasa.
Assessment ini bisa berupa tes formal seperti IELTS atau TOEFL, bisa juga berupa evaluasi informal seperti placement test di awal kursus. Intinya, tujuannya sama: memotret kemampuan bahasa seseorang di titik tertentu.
Bayangkan kamu ikut kursus bahasa Jepang tanpa tahu level kamu di mana. Kalau ternyata kamu masuk kelas yang terlalu mudah, kamu bakal bosan.
Kalau terlalu susah, kamu bakal kewalahan dan frustrasi. Language assessment membantu menghindari dua skenario itu.
Selain itu, assessment juga penting untuk keperluan lain:
Banyak universitas luar negeri yang mensyaratkan skor IELTS atau TOEFL sebagai bukti kemampuan bahasa Inggris calon mahasiswanya.
Sebagian perusahaan, terutama yang beroperasi secara internasional, menggunakan hasil tes bahasa sebagai salah satu pertimbangan rekrutmen.
Program beasiswa seperti LPDP atau Erasmus+ umumnya mewajibkan sertifikat kemampuan bahasa sebagai bagian dari persyaratan.
Lembaga kursus bahasa yang baik biasanya melakukan assessment awal untuk menempatkan peserta di level yang paling sesuai.
Language assessment itu nggak cuma satu bentuk. Ada beberapa jenis yang umum dipakai tergantung tujuannya:
Ini yang paling sering ditemui di awal kursus bahasa. Tujuannya bukan untuk menilai lulus atau tidak lulus, tapi untuk menentukan kamu harus mulai dari level mana. Santai saja menghadapinya karena semakin jujur hasilnya, semakin tepat penempatan kelasnya.
Tes ini mengukur kemampuan bahasa secara keseluruhan, lepas dari program belajar tertentu. Contohnya IELTS, TOEFL untuk bahasa Inggris, JLPT untuk bahasa Jepang, HSK untuk Mandarin, TOPIK untuk Korea, dan DELE untuk Spanyol. Hasilnya berupa sertifikat yang diakui secara internasional.
Jenis ini mengukur seberapa banyak yang sudah kamu pelajari dalam suatu program atau kursus tertentu. Biasanya berbentuk ujian akhir semester atau ujian per level di lembaga kursus.
Lebih spesifik dari yang lain. Diagnostic test digunakan untuk mengidentifikasi area mana yang masih lemah, misalnya grammar, pronunciation, atau listening, supaya bisa difokuskan dalam proses belajar selanjutnya.
Sebagian besar language assessment mengukur empat skill utama yang juga sering disebut sebagai four language skills:
Nggak semua tes mengukur keempat skill ini sekaligus. Ada yang fokus hanya ke satu atau dua skill tergantung kebutuhan dan jenis tesnya.
Kalau kamu baru mulai belajar bahasa atau mau tahu posisi kemampuanmu sekarang ada di mana, langkah pertama yang paling praktis adalah mengikuti placement test. Di Lingua Learn Indonesia, kami melakukan assessment awal untuk semua peserta baru supaya bisa masuk ke kelas yang paling sesuai dengan level dan tujuan belajarnya.
Buat kamu yang punya target spesifik seperti skor IELTS untuk daftar beasiswa atau sertifikasi bahasa Jepang untuk karier, tim kami bisa membantu kamu menyusun rencana belajar yang lebih terarah dari hasil assessment tersebut.
Language assessment bukan hal yang perlu ditakuti. Anggap saja sebagai peta yang membantu kamu tahu kamu sedang ada di mana, dan harus ke mana selanjutnya.